
Setiap Ramadhan datang, kita sering mendengar dua kalimat yang sama-sama popular, “Ramadhan itu bulan produktif,” dan “wajar lah agak malas, kan lagi puasa.” Di titik ini, banyak mahasiswa terjebak pada dua ekstrem, memaksa diri tetap “sat-set” seperti biasa sampai kelelahan, atau menjadikan puasa sebagai “tiket bebas” untuk menunda semua hal. Padahal, Ramadhan seharusnya bukan alasan untuk bermalas-malasan, melainkan momentum untuk menata ulang ritme hidup agar tetap berjalan dengan lebih sadar dan terarah.
Jika memakai kacamata Devon Price dalam Laziness Does Not Exist, label “malas” sering kali bukan fakta, melainkan cara yang terlalu sederhana untuk menjelaskan masalah yang lebih rumit. Dalam pandangan ini, “malas” kerap muncul sebagai penilaian moral seolah seseorang kurang niat atau kurang sungguh-sungguh, padahal yang terjadi biasanya adalah adanya hambatan kelelahan, stres, kecemasan, kebingungan memulai, atau kebutuhan tubuh dan pikiran yang belum terpenuhi. Artinya, saat seseorang berkata “aku malas,” bisa jadi yang sebenarnya ia maksud adalah “aku sedang kewalahan.”
Bagi mahasiswa, Ramadhan membawa perubahan rutinitas yang nyata. Pola tidur bergeser karena sahur, ibadah malam, dan aktivitas kampus yang tetap berjalan. Tugas kuliah menumpuk, target akademik tetap ada, organisasi tetap menagih peran, sementara energi tubuh tidak selalu stabil. Dalam kondisi seperti ini, menyebut diri “malas” justru menutup kesempatan untuk memahami akar masalah. Penundaan sering terjadi bukan karena tidak peduli, melainkan karena tugas terasa besar, penting, dan menekan, sehingga memunculkan rasa cemas takut tidak sempurna, takut gagal, atau bingung harus memulai dari mana.
Karena itu, solusi terbaik bukan memperbanyak rasa bersalah, melainkan mengubah cara bergerak. Ramadhan mengajarkan disiplin, tetapi juga mengajarkan kasih sayang termasuk kepada diri sendiri. Produktif di bulan puasa tidak harus berarti memaksa diri bekerja keras tanpa jeda. Produktif bisa berarti tetap berjalan, namun dengan ritme yang lebih realistis. Target boleh disesuaikan, asalkan arah tidak hilang. Jika biasanya mampu belajar tiga jam penuh, di Ramadhan mungkin cukup satu jam yang konsisten dan fokus, karena konsistensi sering lebih menentukan daripada intensitas sesaat.
Sebagai penguat semangat untuk tetap berikhtiar, Al-Qur’an mengingatkan: “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (QS. Al-Insyirah: 7).
Langkah lainnya adalah memecah beban menjadi tindakan paling kecil yang bisa dikerjakan sekarang. Daripada bertanya “bagaimana menyelesaikan semua tugas,” lebih membantu jika bertanya “apa langkah pertama yang bisa aku lakukan dalam lima menit ini?” Memulai sering kali menjadi bagian tersulit. Begitu langkah awal tercapai, dorongan untuk melanjutkan biasanya mengikuti. Cara ini membantu mengatasi kebingungan dan kecemasan yang sering disalahartikan sebagai kemalasan.
Yang tak kalah pentingialah ganti kebiasaan menghakimi diri dengan kebiasaan memetakan hambatan. Alih-alih berkata “aku malas,” coba jujur menyebutkan penyebabnya kurang tidur, terlalu banyak komitmen, pikiran penuh, atau takut hasil tidak sesuai harapan. Dari pemetaan itu, solusi menjadi lebih konkret. Tidur lebih cepat, mengurangi agenda, membuat daftar prioritas, meminta teman jadi partner belajar, atau menyusun jadwal yang lebih masuk akal. Dengan begitu, kita tidak sekadar “melawan malas,” tetapi benar-benar membenahi sumber yang membuat kita berhenti bergerak.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan alasan untuk bermalas-malasan, dan juga bukan ajang membuktikan diri paling kuat sampai mengorbankan kesehatan. Dengan pendekatan Laziness Does Not Exist, kita belajar melihat penurunan energi sebagai sinyal yang perlu dipahami, bukan dosa yang harus dihukum. Ramadhan bisa menjadi bulan produktif yang paling manusiawi: tetap berusaha tanpa menghakimi, tetap mengejar target tanpa kehilangan diri, dan tetap berjalan pelan asal tidak berhenti.
Author: RN
Versi cetak
9 April 2026

28 Februari 2026

25 Februari 2026

24 Februari 2026

14 Februari 2026